Melestarikan Ekosistem Mangrove

Melestarikan Ekosistem Mangrove

Mangrove merupakan salah satu kekayaan genetik Indonesia, khususnya di wilayah pesisir, Wilayah pesisir sendiri di Indonesia menjadi garis pantai terpanjang di antara seluruh Negara di dunia, sebab Indonesia merupakan Negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Hutan mangrove memiliki arti penting bagi Indonesia sebagai Negara kepulauan. Hutan mangrove memiliki peran penting dalam melindungi daratan dari gelombang dan abrasi, dan menjaga kekayaan genetik dari flora fauna di dalamnya, termasuk menjaga produktivitas sumder daya perikanan Indonesia.

Tipologi ekosistem yang menjadi habitat utama bekantan adalah hutan mangrove. Komposisi penyusun  hutan mangrove di KKMB terdiri atas 21 jenis mangrove sejati, 4 jenis mangrove ikutan dan 2 tanaman invasif. Habitat bekantan di hutan mangrove tersebut menyebar di beberapa lokasi dalam kawasan konservasi. Biasanya satwa ini hidup berkelompok di hutan yang masih bagus dan belum banyak terganggu. Bekantan merupakan jenis satwa liar yang dilindungi oleh peraturan di Indonesia. Bekantan yang semi liar umumnya dapat beradaptasi pada kondisi yang mengalami keterbatasan, baik dalam aspek ruang gerak maupun jenis makanan.  

2019-09-27 20.06.49 2142195369157375718_13521855828

Upaya peningkatan konservasi satwa liar yang dilindungi juga terus dilakukan. Mulai dari pengelolaan kawasan konservasi sebagai habitat satwa yang dilindungi, pengelolaan populasi sampai dengan penelitian ekologi. Salah satu aspek ekologi yang penting adalah pakan. Pakan merupakan salah satu kaidah utama dalam mempelajari habitat satwa liar. Keberadaan pakan yang akan menjamin keberadaan satwa tersebut di suatu lokasi. Tingkat kecukupan pakan juga sangat berpengaruh terhadap populasi satwa dan menjadi indikator kesehatan habitat satwa tersebut. Satwa memilih pakan yang tersedia di lapangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekantan memiliki preferensi tertentu terhadap pakan yang tersedia yang tercermin dari fesesnya, serta pakan yang cukup dapat membantu meningkatkan perkawinan yang pada akhirnya bisa meningkatkan populasi (Medin, 1968; Bhadresa, 1987; Sutherland, 2000 dalam Hardani, 2013).

Hutan mangrove  merupakan  bagian  ekosistem pesisir  Kota  Tarakan  yang  menyediakan sumberdaya alam produktif,   baik sebagai sumber pangan, tambang mineral dan energi, media  komunikasi  maupun  kawasan  rekreasi  atau  pariwisata  (Pratiwi, 2013).  Peranan  hutan  mangrove  dalam kehidupan  ditunjukkan  oleh  fungsi mangrove  terkait  aspek  sosio-ekologis, sosio-ekonomis, dan sosio-kultural.

Fungsi ekologis hutan mangrove yang paling  menonjol  adalah  sebagai  pelindung garis  pantai  dan  kehidupan  di  belakangnya  dari  gempuran  tsunami  dan  angin, mencegah  terjadinya  salinasi  pada  wilayah-wilayah di belakangnya, dan sebagai habitat bagi biota perairan. Secara ekonomis,  pemanfaatan  hutan  mangrove  berasal dari hasil kayunya sebagai kayu bangunan, kayu bakar dan bahan kertas serta hasil hutan bukan kayu, selain juga difungsikan  sebagai  kawasan  wisata  alam pantai. Secara sosial, hutan mangrove juga berfungsi melestarikan keterkaitan hubungan  sosial  dengan  masyarakat  lokal, sebagai  tempat  mencari  ikan,  kepiting, udang, dan bahan obat-obatan (Dahuri et al., 2001).

Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) adalah kawasan hutan di Kota Tarakan ditetapkan bedasarkan pemanfaatannya, secara ekologis dan biologis terbagi ke dalam hutan lindung dan hutan konservasi dengan tujuan khusus sebagai hutan kota dan hutan mangrove (Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, 2010).  Hutan mangrove merupakan bagian ekosistem pesisir Kota Tarakan yang menyediakan sumberdaya alam produktif, baik sebagai sumber pangan, tambang mineral, dan energy seperti minyakdan gas serta batubara, media komunikasi maupun kawasan rekreasi atau pariwisata (Pratiwi, 2013).

Mangrove di Kota Tarakan menghasilkan berbagai macam barang/material (baik berupa kayu maupun hasil hutan bukan kayu) dan jasa lingkungan (oksigen penyerap polutan, pengendali abrasi dan interusi air laut, dan lain-lain) yang sangat bermanfaat secara ekonomis dan ekologis bagi kelangsungan kehidupan masyarakat pesisir dan kelestarian hasil beserta kelestarian fungsi ekosistem pesisir itu sendiri.

Secara garis besar, fungsi mangrove di KKMB Kota Tarakan dapat kita lihat dari dua level yaitu pada level ekosistem dan level sumberdaya yang dapat kita rincikan sebagai berikut:

a. Melindungi lingkungan ekosistem pantai Kota Tarakan

Sebagai proteksi garis pantai dari hempasan gelombang di Kota Tarakan karena Semua tipe hutan mangrove, dengan pengecualian hutan-hutan yang mengalami perubahan, menunjukkan kemampuan untuk meredam energi dan kekuatan tsunami, mengurangi kecepatan dan dalamnya aliran, dan membatasi wilayah penggenangan. Hutan-hutan mangrove yang alami, sehat dan utuh memberikan perlindungan yang baik bagi wilayah pesisir khususnya di  Kawasan KKMB Kota Tarakan. Kerapatan pohon dan sistem perakaran mangrove yang berkembang di atas permukaan tanah (stilt root, knee root, plunk root, pneumatophore), khususnya yang membentuk cable root system dapat memproteksi garis pantai (sehingga tidak terjadi abrasi) dari terjangan gelombang arus laut karena adanya penyerapan energi gelombang dan pengurangan kecepatan arus oleh perakaran mangrove tersebut (Mazda et.al., 1997 a; Saenger, 1982). Meskipun demikian, pada beberapa kasus, tidak semua hutan mangrove berhasil dalam meredam efek tsunami. Bukti-bukti menunjukkan bahwa fungsi hutan mangrove gagal bila ombak terlalu besar, diameter pohon terlalu kecil, atau pohon tidak cukup punya cabang di dekat permukaan tanah.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, hutan mangrove terbukti dapat meredam kekuatan energi gelombang pasang/tsunami. Utomo (2003) yang dikutip oleh Diposaptono dan Budiman (2008) mengemukakan bahwa hutan mangrove dengan kerapatan 5 %, tinggi 5 m dan tebal 50 m dapat meredam 52 % tinggi tsunami, 38 % energi tsunami, juga 14 %, 19 %, dan 22 % jarak run-up tsunami di atas muka air tenang berturut-turut untuk kemiringan pantai 50, 100, dan 150 . Hasil penelitian yang serupa ditegaskan pula oleh Harada dan Kawata (2004) yang melaporkan bahwa hutan pesisir yang terdiri atas mangrove, sagu, kasuarina, dan tegakan pohon kelapa dengan kerapatan 3.000 pohon per ha dengan diameter batang rata-rata 15 cm dan lebar hutannya sekitar 200 m dapat mengurangi tinggi gelombang tsunami sekitar 50-60 % dan kecepatan aliran tsunami sekitar 40-60 %.

Kawasan mangrove di KKMB Berfungsi sebagai proteksi dari tiupan angin kencang hal ini di karenakan Fractional drag di atas kanopi mangrove adalah jauh lebih tinggi dibandingkan di atas permukaan air, sehingga semakin ke arah mangrove pedalaman kecepatan angin semakin berkurang. Saenger (2002) melaporkan bahwa mangrove yang tersusun oleh tegakan pohon dengan tinggi 3 – 5 m hanya sedikit mengalami kerusakan (1% dari jumlah pohon) akibat tiupan angin topan.

Fungsi ekositem mangrove KKMB sebagai pengatur sedimentasi dengan sistem perakaran mangrove dapat mengurangi kecepatan arus air yang mengalir di lantai hutan, sehingga memberi kesempatan kepada partikel-partikel koloid tanah untuk mengendap di lantai hutan. Wolanski et.al. (1997) mengemukakan bahwa mangrove berperan mengatur pergerakan sedimen melalui pengurangan daya erosif arus air, pengayaan deposit liat dan pengurangan daya resuspensi dari deposit liat sehingga mangrove dapat meningkatkan kualitas perairan dan produktivitas primer oleh melimpahnya fitoplankton.

Ekosistem mangrove dapat berperan penting sebagai tempat penampung dissolve-nutrient, serta pengolah limbah organik (Boto dan Wellingston, 1983). Dalam hal ini banyak dibuktikan bahwa kesuburan tanah, kandungan hara serasah dan pertumbuhan tegakan mangrove jauh lebih baik di hutan-hutan mangrove yang banyak menerima input hara an-organik, terutama Nitrogen dan Posfor, daripada mangrove yang tidak mendapat input energi dari luar (Clough et al., 1983). Dengan rapatnya batang-batang dan susunan perakaran mangrove, maka banyak partikel liat terdeposisi di zona mangrove, bersamaan dengan ini banyak nutrien yang berasal dari kolom badan air terserap dalam sedimen liat tersebut. Hal ini selain mencegah hilangnya nutrien dari mangrove ke laut lepas juga memperbesar cadangan nutrien dalam sedimen mangrove tersebut.

Fungsi mangrove dalam ekosistem hutan mangrove KKMB dapat memperbaiki kualitas air. Secara umum, Snedaker (1987) mengemukakan bahwa mengrove menyediakan sumber detritus yang penting bagi ekosistem pantai dan estuaria yang mendukung berbagai organism akuatik. Perakaran mangrove berperan mengurangi materi tersuspensi dalam badan kolam air, bahkan mendeposisikannya, sehingga konsentrasi oksigen terlarut meningkat. Selain itu, mangrove dapat menyerap dan mengurangi bahan pencemar (polutan) dari badan air baik melalui penyerapan polutan tersebut oleh jaringan anatomi tumbuhan mangrove maupun menyerap bahan polutan yang bersangkutan dalam sedimen lumpur (IUCN & E/P Forum, 1993 dalam Kusmana, 2009). Kemampuan vegetasi mangrove dalam menyerap bahan polutan (dalam hal ini logam berat) telah dibuktikan oleh Darmiyati et. al. (1995) dalam Kusmana (2009), dimana jenis Rhizophora mucronata dapat menyerap lebih dari 300 ppm Mn, 20 ppm Zn dan 15 ppm Cu. Begitu pula Saepulloh (1995) membuktikan bahwa pada daun Avicennia marina ditemukan akumulasi Pb sebesar ≥ 15 ppm, Cd ≥ 0,5 ppm dan Ni ≥ 2,4 ppm.

Ekosistem mangrove di KKMB dapat berfungsi sebagai pengendali intrusi air laut. Fungsi ini terjadi melalui mekanisme pencegahan pengendapan CaCO3 oleh bahan hasil eksudat akar, pengurangan kadar garam oleh bahan organik hasil dekomposisi serasah, peranan fisik susunan akar mangrove yang dapat mengurangi daya jangkauan air pasang ke daratan dan perbaikan sifat fisik dan kimia tanah melalui dekomposisi serasah. Secara teoritis diperkirakan percepatan intrusi air laut meningkat 2 – 3 kali pada lokasi tanpa hutan mangrove. Hal ini di buktikan dalam penelitian Hilmi (1998) melaporkan bahwa jarak intrusi air laut di Pantai Jakarta meningkat drastis dari 1 km pada hutan mangrove selebar 0,75 m menjadi 4,24 km pada lokasi tanpa hutan mangrove.

Hutan mangrove di KKMB sebagai Pengaturan air bawah tanah (groundwater). Berhubung mangrove letaknya berada di peralihan antara lautan dengan daratan dan di mangrove banyak terdeposisi partikel liat, maka di batas pedalaman mangrove dengan daratan aliran air tawar dari daratan sering terakumulasi. Air yang bersifat tawar ini sering dimanfaatkan penduduk pesisir untuk keperluan air minum, mencuci dan mandi. Selain itu, groundwater ini secara ekologis dapat menstabilkan salinitas pada saat musim kemarau dan mensuplai nutrien ke ekosistem mangrove melalui kanal-kanal yang ada di mangrove.

Hutan mangrove dapat berfungsi sebagai stabilitas iklim mikro di Kota Tarakan. Komunitas mangrove tersusun oleh tegakan yang rapat dan ekstensif dapat menyebabkan pengendalian suhu yang relatif rendah di siang hari dan relatif lebih hangat di malam hari. Selain itu kelembaban udara di bawah kanopi mangrove yang rapat relatif lebih tinggi dibandingkan di daerah terbuka. Evapotranspirasi dan reflektan panjang-gelombang panjang dari ekstensif kanopi mangrove yang rapat berkontribusi terhadap kelembaban dan densitas awan dalam skala regional, yang akhirnya berkontribusi terhadap curah hujan regional.

b. Pembangun lahan dan pengendapan lumpur

Davis (1940) berpendapat bahwa perakaran mangrove berfungsi sebagai penahan lumpur. Kekontinyuan penimbunan bahan organik menguntungkan bagi pertumbuhan semai dan kelangsungan hidupnya tumbuhan mangrove. Semai tumbuh dan menyebar ke arah laut seirama dengan proses penimbunan lumpur. Hal ini bisa terlihat di kawasan KKMB Kota Tarakan proses penimbunan bahan organik menguntungkan bagi pertumbuhan semai di lokasi tersebut.

c. Sebagai Habitat fauna (terutama fauna laut) yang hidup di ekosistem mangrove membentuk beberapa tipe habitat
Menurut Chapman (1977), Ekosistem mangrove menyediakan 5 (lima) tipe habitat bagi fauna, yakni:

  1. Tajuk pohon yang dihuni oleh berbagai jenis burung, mamalia dan serangga;
  2. Lubang yang terdapat di cabang dan genangan air di “cagak” antara batang dan cabang pohon yang merupakan habitat yang cukup baik untuk serangga (terutama nyamuk);
  3. Permukaan tanah sebagai habitat mudskip-per dan keong/kerang;
  4. Lobang permanen dan semi permanen di dalam tanah sebagai habitat kepiting dan katak;
  5. Saluran-saluran air sebagai habitat buaya dan ikan/udang.

Peranan penting dari ekosistem mangrove dalam menunjang kehidupan biota laut sudah diyakini secara luas. Tetapi, sebenarnya habitat utama dari ekosistem mangrove yang penting dan langsung menunjang kehidupan biota laut adalah saluran-saluran air (shallow bay, inlet dan channel) yang merupakan bagian integral dari ekosistem mangrove tersebut. Dalam hal ini nampaknya vegetasi mangrove lebih berperan sebagai penyedia nutrisi melalui serasahnya bagi produktivitas primer saluran-saluran air tersebut.

 
Hamilton dan Snedaker (1984), melaporkan bahwa kelimpahan individu dan keragaman jenis biota laut tertinggi berada pada estuaria dengan kedalaman 0,3 sampai 1,5 m. Kondisi estuaria dengan kedalaman tersebut cenderung akan semakin banyak dijumpai di lokasi-lokasi ekosistem mangrove yang berjarak semakin jauh dari pantai. 


Pada dasarnya sumbangsih mangrove terhadap kehidupan biota laut adalah melalui guguran serasah vegetasi (termasuk kotoran/sisa tubuh fauna yang mati) ke lantai hutan. Serasah ini akan terdekomposisi oleh cendawan dan bakteri menjadi detritus, yang mana detritus tersebut merupakan makanan utama bagi konsumer primer. Selanjutnya konsumen primer ini akan menunjang kehidupan biota tingkat konsumer sekunder dan top-konsumer di suatu habitat mangrove. 


Produktivitas primer habitat mangrove akan diperkaya oleh komunitas alga di lumpur dan akar (aerial root), komunitas lamun (seagrass), komunitas fitoplankton dari laut dan limbah organik terurai (dissolve–organic compound) dari laut dan daratan. Kesemua fenomena ini akan mempertinggi produktivitas primer habitat mangrove. 


Tingginya produktivitas primer hutan mangrove salah satunya dapat dilihat dari produktivitas serasah hutan tersebut yang umumnya beberapa kali lipat produktivitas serasah tipe hutan daratan, yakni sekitar 5,7 sampai 25,7 ton/ha/th (Kusmana, 1993b). Kondisi habitat mangrove seperti ini mengakibatkan ekosistem mangrove berperan sebagai feeding, spawning dan nursery ground bagi berbagai jenis biota laut (khususnya ikan dan udang) untuk menghabiskan sebagian bahkan seluruh siklus hidupnya. Misalnya. udang air tawar biasa bertelur di anak-anak sungai di kawasan hutan mangrove dan larva-larvanya akan tinggal di kawasan ini sampai sekitar 1 bulan. Begitu pula jenis kepiting dan nener ikan bandeng akan datang ke kawasan hutan mangrove untuk tumbuh dan berkembang menjadi cukup dewasa

e. Keindahan bentang darat
Adanya keindahan bentang darat mangrove di daerah pesisir KKMB memungkinkan pemanfaatan hutan mangrove untuk tujuan rekreasi (khususnya ekoturisme). Hutan rekreasi mangrove merupakan teknik yang relatif baru dalam pengelolaan hutan mangrove. Bentuk pengelolaan hutan ini akan memberikan keuntungan ganda, karena kita dapat memperoleh manfaat ekonomis tanpa langsung mengeksploitasi mangrove itu sendiri. Dari segi kelestarian sumberdaya, pemanfaatan hutan mangrove untuk tujuan rekreasi (khususnya ekoturisme) di hutan mangrove sangat bergantung pada kualitas dan eksiscensi ekosistem mangrove tersebut. Berdasarkan pengalaman, pengelolaan hutan rekreasi mangrove yang telah dilakukan oleh beberapa negara seperti Okinawa (Jepang), Amerika Serikat, Australia, New Zealand, Trinidad, Venezuela, Pagbilao (Filipina), Singapura, Malaysia, dan Tritih (Indonesia), terbukti bahwa dari segi ekonomis dan sosial dapat memberikan keuntungan dan dari segi ekologis dapat melestarikan keberadaan ekosistem mangrove (Hamilton dan Snedaker, 1984).

Prospek pemanfaatan hutan mangrove untuk tujuan rekreasi adalah cukup cerah, karena berdasarkan fakta umumnya para wisatawan di belahan bumi manapun berorientasi pada pemandangan kawasan pantai yang indah dan atraksi adat istiadat penduduk setempat. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa hutan mangrove yang dikelola secara baik juga dapat berfungsi ganda sebagai daerah rekreasi dan penghasil produk (terutama kayu) secara berkelanjutan.
Menurut Kusmana dan Istomo (1993), beberapa potensi ekosistem mangrove yang merupakan modal penting bagi tujuan rekreasi adalah:

  1. Bentuk perakaran yang khas yang umum ditemukan pada beberapa jenis vegetasi mangrove, seperti akar tunjang (Rhizophora spp.), akar lutut (Bruguiera spp.), akar pasak (Sonneratia spp. dan Avicennia spp. ), akar papan (Heritiera spp.), dll;
  2. Buahnya yang bersifat viviparious (buah berkecambah semasa masih menempel pada pohon) yang diperlihatkan oleh beberapa jenis vegetasi mangrove, seperti jenis-jenis yang tergolong pada suku Rhhizophoraceae;
  3. Adanya zonasi yang sering berbeda mulai dari pinggir pantai sampai pedalaman (transisi dengan hutan rawa);
  4. Berbagai jenis fauna dan flora yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, dimana jenis fauna dan flora tersebut kadang-kadang jenis endemik bagi daerah yang bersangkutan;
  5. Atraksi adat-istiadat tradisional penduduk setempat yang berkaitan dengan sumberdaya mangrove;
  6. Saat ini, nampaknya hutan-hutan mangrove yang dikelola secara rasional untuk pertambakan/tambak tumpang-sari, penebangan, pembuatan garam, dan lain-lain bisa menarik para wisatawan.

f. Hutan Mangrove di KKMB juga dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan dan penelitian
Ekosistem mangrove merupakan ekosistem unik, karena mencakup ekosistem darat dan laut. Oleh karena itu, suatu ekosistem mangrove dihuni berbagai biota daratan dan akuatik. Keadaan yang khas adalah merupakan daya tarik tersendiri untuk sarana pendidikan dan penelitian baik yang menyangkut faktor biofisik maupun faktor sosial ekonomis dalam rangka menunjang pengelolaan sumberdaya hayati yang rasional di daerah pesisir KKMB Kota Tarakan.

 

1. Fauna

Fauna yang berada di ekosistem mangrove KKMB terdiri atas fauna daratan dan fauna laut. Menurut Macnae (1968), fauna yang hidup di ekosistem mangrove terdiri dari Fauna Daratan dan fauna laut. Umumnya fauna darat hanya menggunakan ekosistem mangrove sebagai tempat mencari makan dan atau perlindungan. Di Indonesia dikenal hanya satu jenis fauna darat yang seluruh siklus hidupnya bergantung pada habitat mangrove, yaitu bekantan (Nasalis larvatus) yang penyebarannya terbatas di Kalimantan di antaranya adalah di KKMB Kota Tarakan.

Selain bekantan ada beberapa jenis fauna lain yang hidup di kawasan ekosistem mangrove seperti:

a) Beberapa jenis burung yang berasosiasi dengan mangrove adalah Phalacrocorax carbo, P. melanogaster, P. niger, Anhinga anhinga, Egretta spp., Halcyon chloris, dan lain-lain;

b) Jenis-jenis fauna amphibi yang sering ditemukan di mangrove adalah Rana cancrivora dan Rana limnocharis. Sedangkan jenis-jenis Reptilia yang sering dijumpai adalah Crocodilus porosus, Varanus salvator, Trimeresurus wagleri, T. purpureomaculatus, Boiga. dendrophila, Fordonia leucojbalia, Bitia hydroides, Cerberus rhynchops, dan lain-lain;

c) Beberapa jenis mamalia yang dijumpai di mangrove adalah Nasalis larvatus, Presbytis cristatus, Cercoppithecus mitis, Macaca irus, Sus scrofa, Kerpestes spp., dan lain-lain;

d) Jenis serangga yang menghuni habitat mangrove, yang mana umumnya didominasi oleh nyamuk. Jenis-jenis serangga tersebut adalah semut, Aedes pembaensis, Anopheles spp., Culicoides spp., dan lain-lain.

Selanjutnya fauna laut merupakan elemen utama dari fauna ekosistem mangrove. Fauna laut di mangrove terdiri atas dua komponen, yaitu infauna yang hidup di lobang-lobang di dalam tanah, dan epifauna yang bersifat mengembara di permukaan tanah.

Fauna laut di ekosistem mangrove memperlihatkan dua pola penyebaran, yaitu Fauna yang menyebar secara vertikal (hidup di batang, cabang dan ranting, dan daun pohon) yakni berbagai jenis Moluska, terutama keong-keongan, misalnya Littorina scrabra, L. melanostoma, L. undulata, Cerithidea spp., Nerita birmanica, Chthalmus witthersii, Murex adustus, Balanus amphitrite, Crassostraea cuculata, Nannosesarma minuta, dan Clibanarius longitarsus; dan fauna yang menyebar secara horizontal (hidup di atas atau di dalam substratum) yang menempati berbagai tipe habitat sebagai berikut:

(a) Hutan Bruguiera dan semak Ceriops (Sarmatium spp., Helice spp., Ilyoggrapsus spp., Sesarma spp., Metopograpsus frontalis, M. thukuhar, M. messor, Cleistosma spp., Tylodiplax spp., Ilyoplax spp., Thalassina anomala, Macrophthalmus depressum, Paracleistostoma depressum, Utica spp., Telescopiu telescopiu, Uca spp., Cerithidea spp., dan lain-lain);

(b) Hutan Rhizophora (Metopograpsus latifrons, “Alpeid prawn’, Macrophthalmus spp., Telescopium telescopium, dan lain-lain);

(c)Mintakat pinggir pantai dan saluran (Scartelaos viridus, Macrophthalmus latreillei, Boleophthalmus chrysospilos, Tachypleus gigas, Cerberus rhysospilos, Tacchypleus gigas, Cerberus rhynchops, Syncera brevicula, Telescopium telescopi-um, Epixanthus dentatus, Eurycarcinus integrifrons, Heteropanope eucratoides, dan lain-lain).

 

2. Flora

Menurut Umali et al. (1987) dalam Kusmana (2009), sampai saat ini dilaporkan sekitar 130 jenis tumbuhan di 11 negara Asia-Pasifik, diantaranya di Indonesia terdapat 101 jenis (Kusmana, 1993a). Dalam skala komersial, berbagai jenis kayu mangrove dapat digunakan sebagai:

(a) “chips” untuk bahan baku kertas, terutama jenis Rhizophcra spp. dan Bruguiera spp.,

(b) penghasil industri papan dan plywood, terutama jenis Bruguiera spp. dan Heritiera littoralis;

(c) tongkat dan tiang pancang (“scalfold“), terutama jenis Bruguiera spp., Ceriops spp., Oncosperma sp. dan Rhizophora apiculata;

(d) kayu bakar dan arang yang berkualitas sangat baik. Sudah sejak lama, berbagai jenis tumbuhan mangrove dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat pesisir.

Leave a comment

Your email address will not be published.