Bekantan: Kekayaan Genetik dan Spesies yang Dilindungi dari Kepunahan

Bekantan: Kekayaan Genetik dan Spesies yang Dilindungi dari Kepunahan

Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan salah satu primata endemik Pulau Kalimantan (Groves, 2001, Bismark, 2010). Jenis ini dikenal dengan sebutan monyet belanda, bekara atau warek belanda. Deskripsi jenis ini adalah hidung panjang dan menggantung (pendulus). Rambut tubuh umumnya pucat abu-abu kekuningan hingga tengguli, muka cokelat, ekor dan pantat keputihan dan muka tidak ditutupi rambut. Punggung berwana cokelat kemerahan. Panjang ekor dibandingkan panjang badan 110-120 %. Jantan dewasa memiliki warna pucat di sisi dan bagian muka dengan hidung lebih besar dibandingkan betinanya. Panjang badan jantan 660-762 mm dengan berat badan 16-22,5 Kg, panjang badan betina 533-609 mm dengan berat badan 7-11 Kg (Atmoko dkk, 2012).  Bekantan merupakan monyet yang berukuran besar yang memiliki perbedaan yang tampak antara jantan dan betina/seksual dimorphisme (Meijaard dan Nijman, 2000).

Taksonomi bekantan menurut IUCN (2014) adalah sebagai berikut :
Kingdom Animalia
Pylum Chordata
Class Mammalia
Oder Primata
Suborder Haplorrhini
Infraorder Simiiformes
Superfamily Cercopithecoidea
Family Cercopithecidae
Subfamily Colobinae
Genus Nasalis
Species Nasalis larvatus Wurmb
Sub Species Nasalis larvatus ssp. larvatus
Nasalis larvatus ssp. Orientalis

Selain nama jenis tersebut, bekantan memiliki tiga sinonim nama ilmiah, yaitu : Nasalis capistratus Kerr, Nasalis nasica Lacépède dan Nasalis recurvus Vigors & Horsfield. Secara nasional, bekantan dilindungi berdasarkan Undang Undang No 5 tahun 1990 tentang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam  dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 301/Kpts-II/1991. Secara internasional bekantan termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu satwa yang secara internasional tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apapun sama sekali (Atmoko dkk. 2012)

Jenis ini telah mengalami penurunan populasi di seluruh habitat aslinya akibat dari perburuan dan perusakan habitat yang terjadi terus menerus. Angka penurunannya sebesar lebih dari 50% (tapi kurang dari 80%) selama 3 generasi terakhir (sekitar 36-40 tahun). Pada tahun 1994 , total populasi bekantan adalah 114.000 Individu. Populasi utama, tersebar di 12 lokasi di seluruh Kalimantan. Supriatna (2004) menyebutkan bahwa hanya terdapat 15.000 individu dengan referensi laju deforestasi habitat 2,5 %. Manangsang dkk. (2005) memperkirakan bahwa hanya 9.200 individu. Apabila populasi bekantan adalah 114.000 individu pada tahun 1994 dan 15.000 individu pada tahun 2004, maka dalam waktu 10 tahun terjadi penurunan populasi rata-rata 10 % per tahun .

Penurunan populasi bekantan ini sebagian besar disebabkan oleh hilangnya habitat dengan rata-rata 3,1 % per tahun (Bismark dan Iskandar 2002), hasil tersebut belum termasuk degradasi habitat sebesar 3,49 % per tahun ( Supriatna dkk. 2001). sehingga sejak tahun 2000 statusnya dalam daftar merah (Redlist Species) IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Nature Resources), yaitu meningkat dari vulnerable (Rentan) pada tahun 1986-1996 menjadi endangered (teracam punah) pada tahun 2000 sampai sekarang (IUCN, 2014).

Bekantan di KKMB merupakan populasi semi-liar yang menempati habitat yang relatif kecil dibandingkan habitat aslinya. Secara umum, bekantan membutuh lebih kurang 20 hektar untuk daerah jelajah dalam satu kelompok (lihat tabel Ilustrasi kelompok bekantan, sementara luas kawasan di KKMB yang digunakan sebagai habitat hanya sembilan hektar. Secara ekologis, kondisi tersebut menyebabkan keterbatasan sumber makanan (food suply) dan ruang. Untuk mengatasi hal tersebut, pengelola KKMB membuat perlakukan dengan memberikan makanan tambahan berupa pisang mentah sebanyak 2-3 tandan setiap hari.

Leave a comment

Your email address will not be published.